(VOVWORLD) - Hubungan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) sedang mengalami keretakan yang serius, yang berhubungan dengan serangkaian masalah. Kebijakan tarif timbal balik baru yang diumumkan Pemerintah pimpinan Presiden Donald Trump pada Rabu (2 April) terus memperdalam kontradiksi antara dua sekutu yang pernah menjalin hubungan hangat dalam waktu lama.
Menghadapi satu Pemerintah baru pimpinan Presiden Trump yang sedang memiliki pendirian keras, para pemimpin Eropa sedang menilai dan memosisikan kembali kekuatan bloknya dalam perang yang panjang ini.
Tarif dan militer
Dalam posting di akun medsos Truth Social pada bulan Maret lalu, Presiden Donald Trumo telah menyebut Uni Eropa sebagai salah satu badan penarik tarif pengena tarif yang paling menyalahgunakan di dunia. Bahkan Presiden AS menambahkan bahwa Uni Eropa “dibentuk dengan tujuan satu-satunya yaitu menyalahgunakan AS”. Pernyataan ini merupakan pengingatan terbaru bahwa perang-perang perdagangan yang diawali Pemerintah Trump jilid 2 terhadap Kanada, Tiongkok, dan Meksiko mulai menjalar ke Eropa. Dalam kenyataannya, tarif 25% terhadap baja dan aluminium impor telah resmi berlaku terhadap Uni Eropa pada tgl 12 Maret lalu.
Tidak hanya masalah ekonomi saja, Pemerintah Trump jilid 2 juga menantang kedaulatan wilayah Eropa dengan mengancam akan menggabungkan Greenland (Denmark). Donald Trump bertekad bahwa AS akan mendapatkan Pulau Greenland cepat atau lambat, dengan segala cara. Bahkan, Donald Trump juga menyatakan tidak mengecualikan skenario bahwa AS menggunakan kekerasan militer untuk merebut hak kontrol terhadap Pulau Greenland. Para sekutu dari AS dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terkejut ketika Presiden Donald Trump mengumumkan niatnya untuk merebut Pulau Greenlad ke jatuh tangan AS. Baik Denmark maupun AS merupakan anggota NATO. AS selalu berkomitmen melindungi keamanan bagi para sekutunya, termasuk Denmark dan Greenland, tetapi sekarang AS secara terbuka menantang dan mengancam keamanan, kedaulatan, dan keutuhan wilayah Denmark dan Pulau Greenland.
Di samping itu, AS sedang cenderung menimbulkan tekanan terhadap para pendukung Eropa untuk mencapai satu kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina, menarik sebagian yang signifikan dari komitmen-komitmen keamanan AS di Eropa.
Memanfaatkan kelemahan-kelemahan tentang ekonomi, teknologi, politik dan keamanan Eropa, menggunakan baik militer maupun tarif sebagai senjata untuk mencapai tujuannya, itulah cara yang sedang dilaksanakan Pemerintah AS untuk menegaskan posisi dan kekuatannya.
Eropa perlu dengan cepat memosisikan kekuatan bloknya
Pada latar belakang ini, bagaimana Uni Eropa akan menyeimbangkan kembali hubungan dan mempertahankan konektivitas dengan AS, membalas atau tidak membalas, sungguh-sungguh merupakan pertanyaan-pertanyaan besar yang harus dijawab oleh Uni Eropa dengan arif.
Pertama-tama, pertanyaannya ialah apakah Eropa sungguh-sungguh harus mengancam memberi balasan atau tidak, dan kemudian tindakan apa yang akan diambil jika Trump melaksanakan ancamannya. Tentang tarif, dalam kenyataan, baik dua negara di benua Amerika yaitu Kanada dan Meksiko telah menggelar langkah-langkah deterensi, bersama dengan konsesi dan prioritas, tetapi sekarang masih menghadapi rintangan-rintangan tarif baru yang signifikan.
Menghadapi kenyataan itu, Eropa perlu menilai kembali kekuatannya dan menggunakan langkah-langkah baru. Misalnya, Instrumen Anti-Paksaan (ACI) berlaku pada bulan Desember 2023 yang mengizinkan Komisi Eropa menerapkan langkah-langkah tanggapan ketika sistem penyelesaian sengketa dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) tidak berlaku. Selain itu, Uni Eropa juga bisa menggunakan standar-standar tentang pertanian dan lingkungan untuk melakukan diskriminasi terhadap produk-produk AS.
Di samping tarif dan perdagangan, Uni Eropa bisa menerapkan langkah-langkah lain tentang jasa, kekayaan intelektual, digital dan teknologi. Misalnya undang-undang mengenai digital baru yang mengizinkan Uni Eropa memperketat perangkat lunak dan platform daring AS; ketentuan tentang perlindungan data bersama Uni Eropa yang menerapkan prinsip-prinsip perlindungan dan privasi yang ketat terhadap proses penanganan dan transfer data…. Seiring dengan itu, Uni Eropa perlu memperkuat langkah-langkah pemberian bantuan, seperti subsidi dan pinjaman dengan suku bunga rendah, untuk membantu cabang-cabang industri strategis yang mudah terkena dampak dari luar, membangun sumber pasokan alternatif dan menjamin rantai pasokan.
Akhirnya, kekuatan Eropa dalam zaman baru ini bergantung pada kemampuan solidaritasnya, menjadi kekuatan kolektif. Persiapan langkah-langkah pertahanan yang kuat untuk menentang kebijakan-kebijakan yang tidak menguntungkan dari AS bisa bermanfaat bagi kestabilan hubungan transAtlantik dalam jangka panjang.