(VOVWORLD) -Menurut informasi dari kalangan otoritas Myanmar, hingga Minggu pagi (30 Maret), jumlah korban tewas akibat gempa bumi kuat yang terjadi di negara ini pada tgl 28 Maret telah meningkat menjadi 1.644 orang, hampir 2.400 orang terluka. Sekarang, tim SARS masih mencari orang yang hilang di kota Mandalay, daerah yang terdampak paling parah.
Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa Bumi di Myanmar terus Meningkat (Foto: AFP) |
Sementara itu, ibu kota Bangkok, Thailand, tempat yang jauhnya lebih 1.000 km dari episentum gempa, mengonfirmasi 10 kematian, sebagian besar adalah pekerja yang terkubur di reruntuhan gedung 30 lantai yang sedang dibangun.
Menghadapi kesulitan yang dihadapi Myanmar dalam mencari, merawat yang terluka, dan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang terdampak, komunitas internasional dengan cepat melakukan kegiatan pertolongan dan berjanji untuk bantuan tentang sumber daya manusia, keuangan, dan barang esensial.
Pada Jumat (29 Maret), Tiongkok mengirim tim penyelamat beranggotakan 82 orang ke Myanmar. Selain itu, tim penyelamat lain dari provinsi Yunnan juga telah tiba di kota Yangon, Myanmar. Sebuah penerbangan bantuan India juga telah mendarat di Myanmar yang membawa peralatan kebersihan, selimut, makanan dan kebutuhan pokok lainnya. Selain kargo, India juga mengirimkan tim pencarian dan penyelamatan serta tim medis ke Myanmar.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memobilisasi pusat logistiknya di Dubai (Uni Emirat Arab) untuk menyiapkan pasokan medis darurat bagi korban gempa. WHO juga telah mengaktifkan mekanisme tanggap darurat dan mengoordinasikan upaya bantuan dari kantor pusatnya di Jenewa, Swiss. Uni Eropa (UE) mengumumkan bantuan darurat sebesar 2,5 juta euro (2,7 juta USD), sementara Malaysia, Republik Korea, dan Selandia Baru juga telah mengumumkan dukungan untuk Myanmar dengan personel dan pasokan penting.